Just another WordPress.com weblog

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Sejarah Paroki St. Petrus Gubug

SEJARAH PERKEMBANGAN PAROKI

Gereja Santo Petrus Gubug saat ini melayani 17 lingkungan yang terbagi ke dalam 5 wilayah. Secara historis perkembangan umat dari wilayah-wilayah awalnya terpisah-pisah, sehingga dapat diuraikan secara sendiri-sendiri, yaitu Sejarah perkembangan Gereja Santo Petrus Gubug, Sejarah perkembangan Gereja Kristus Raja Kedungjati, Sejarah Perkembangan wilayah Tanggungharjo, dan Sejarah Perkembangan Gereja Santo Paulus Penadaran.

A. Sejarah Perkembangan Gereja Santo Petrus Gubug

Benih-benih awal (embrio) Gereja Katolik Santo Petrus Gubug berangkat dari keprihatinan beberapa umat (± 9 orang) di antaranya Bpk. Petrus Soebirin, Bpk. Siswo Darmojo, dan Bpk Fransiscus Xaverius Marto Siswoyo, dengan tidak adanya tempat ibadat (Kapel/Gereja). Perkembangan umat katolik didukung oleh berdirinya SMP Keluarga Gubug yang didirikan pada tahun 1961, inisiatif dari warga katolik dan diprakarsai oleh Bpk Petrus Soebirin, Bpk Go Siamgie, dll. Ruangan lantai atas SMP Keluarga digunakan sebagai Kapel dengan pelindung “Santa Maria” untuk melaksanakan Misa dan Ibadat Sabda. Ibadat Sabda dilaksanakan setiap hari minggu, sedangkan Misa dilaksanakan satu kali dalam satu bulan. Gereja Santo Petrus pada saat itu masih berupa stasi dari paroki Purwodadi.
Dari SMP Keluarga tersebut beberapa siswa dibabtis, di antaranya Bpk. Agustinus Wasito (1965) dan Bpk Fransiscus Xaverius Pujiono (1968) yang sekarang menjadi anggota Dewan Paroki di Gereja ini.
Pada tanggal 4 Juni 1977, stasi Gubug mendapat kunjungan Uskup dalam rangka penerimaan Sakramen Krisma yang pertama. Sakramen Krisma diberikan kepada sejumlah umat dari Gubug dan sekitarnya (Tanggungharjo, Kedungjati, dan Penadaran). Karena jumlah umatnya banyak, ruangan SMP Keluarga tidak mampu menampung umat seluruhnya sehingga pelaksanaan Misa dan penerimaan Sakramen Krisma ditempatkan di Pendopo Kawedanan Gubug, seijin Bapak Wedono.
Selesai penerimaan Sakramen Krisma dilanjutkan wawanhati Uskup bersama umat, Romo Heri Vermeulen,MSF dan Romo Paulus Yasa Widharta,MSF. Bapak Uskup Yustinus Kardinal Darmoyuwono berpesan: ”kene kok ono umat sak mene akehe opo durung dilaporke?, carilah tanah, syukur sudah ada rumahnya, akan dibeli oleh keuskupan”.
Pesan Bapak Uskup ditindaklanjuti dan selang beberapa hari sudah mendapat tanah beserta rumah joglo di dekat pasar Gubug, tepatnya sebelah Timur Lapangan PUK Gubug. Tempat tersebut dibeli oleh keuskupan seharga Rp. 3.500.000,- (tiga juta lima ratus ribu rupiah) dan ditempati sebagai gereja.
Karena tempat tersebut terletak dekat pasar, maka sangat terdengar suara bising terutama dari penjual jamu yang menggunakan loud speaker yang dirasakan sangat mengganggu saat Ibadat serta kurang luas. Hal ini dilaporkan ke keuskupan dan diputuskan agar tempat tersebut dijual dan mencari tempat lain. Tanah tersebut dijual lagi dengan harga sama yaitu Rp. 3.500.000,- (tiga juta lima ratus ribu rupiah). Dalam waktu singkat (5 Mei 1979) didapatkan tanah kembali (di jalan Ahmad Yani yang sekarang kita ditempati), seluas 0,5 ha seharga Rp. 3.500.000,- dan dibayar oleh keuskupan. Uang hasil penjualan tanah di dekat pasar Gubug dan dari umat dikumpulkan menjadi Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah).
Dengan modal 5 juta tersebut umat tidak berani memulai membangun Gereja. Pada bulan Juni 1982 Romo Paroki Purwodadi (Romo Stefanus Broto Santoso,MSF) dan tokoh umat (Bpk. Agustinus Sugiyarto) dipanggil ke keuskupan intinya disuruh memulai pembangunan. Romo Julianus Sunarka,SJ (waktu itu sekretaris keuskupan merangkap Ekonom) menawarkan “uang bunga” meninggalnya Bapak Petrus Wanandi (Bapak dari Romo Markus Samsul Wanandi,SJ) sebesar Rp. 20.000.000,- (dua puluh juta rupiah) untuk pembangunan Gereja.
Peletakan batu pertama dilaksanakan pada tanggal 16 Juli 1982 oleh:
1.  Romo Stefanus Broto Santoso, MSF. (Romo Paroki Purwodadi)
2.  Agustinus Sugiyarto (Ketua Stasi)
3.  Petrus Soebirin (Ketua Panitia Pembangunan)
4.  Kyai Kalim (Tokoh Mushola depan Gereja)
5.  Kyai Soeberi Sofyan (Tokoh Mushola dukoh)

Peletakan batu pertama ini disaksikan oleh umat Katolik yang mengikuti Misa Permberkatan.
Sumbangan dana utama lainnya mengalir dari:
1.  Keluarga Bapak Petrus Wanandi (Jakarta) : Rp. 27.500.000,-
2.  Presiden (Banpres) : Rp. 7.500.000,-
3.  Karya Kepausan Internasional (Via KWI) : Rp. 6.200.000,-
4.  Umat dan donator-donatur lain

Pembangunan tidak berjalan mulus. Setelah beberapa hari pekerjaan dimulai, pembangunan ditentang oleh sebagian masyarakat (kelompok non kristiani) yang berusaha untuk menghalangi dengan mengirimkan surat kaleng berisi ancaman-ancaman kepada panitia pembangunan. Karena dikhawatirkan akan terjadi keributan atau perusakan terhadap pembangunan dan pekerjanya, maka Kasdim Purwodadi (Mayor Abdul Manaf) mengirimkan surat pemberhentian pekerjaan.
Panitia pembangunan tidak tinggal diam, namun melaporkan hal ini kepada Kasdam Jateng (Bapak Bridjen Leo Ngali). Secara lisan Bapak Brijen Leo Ngali memerintahkan ke Kasdim agar surat pemberhentian pembangunan dicabut kembali, dan akhirnya pembangunan dapat dilanjutkan.
Pembangunan Gereja selesai dan diberkati oleh Bapak Uskup Mgr. Alexander Soetandio Djajasiswaja, pada tanggal 30 November 1982.
Pada tahun 1983, Dewan Satasi Gubug merencanakan mendirikan sebuah SMA di bawah bimbingan Romo Julianus Sunarka, SJ. Rencana tersebut terealisir pada Tahun Pelajaran 1984 dengan menempati areal tanah PGPM Gereja Katolik Santa Maria Gubug dengan MOU berbunyi: ”Sekolah menempati tanah PGPM selama sekolah tersebut masih berdiri (buka), kalau sudah tutup maka gedung-gedungnya menjadi milik Gereja”.
Pada tahun 1985, Stasi Gubug ditetapkan oleh Keuskupan Agung Semarang menjadi Paroki Administratif dan menginduk ke Paroki Admodirono Semarang, dengan susunan pengurus sebagai berikut.
1.  Ketua Umum : Romo Ambrosius Darmasuwarna,MSF.
2.  Koordinator Umum : Agustinus Sugiyarto
3.  Koordinator I : Fransiscus Xaverius Sumardi
4.  Koordinator II : Robertus Munadi
5.  Sekretaris : Yohanes Eusatchius Suyono
6.  Bendahara : Johanes Joko Suwito
7.  Seksi-seksi
      a. Seksi Liturgi : Fransiscus Xaverius Sumardi
      b. Seksi Pewartaan : Petrus Soebirin
      c. Seksi Sosial /PSE : Agustinus Widodo

Pada tanggal 27 Juni 1985, Mgr. Yulius Kardinal Darmoatmojo berkenan mengadakan kunjungan pastoral di Gubug dalam rangka penerimaan Sakramen Krisma (102 orang). Selesai misa diadakan wawan hati dengan wakil umat dan Muspika Gubug. Dalam wawan hati tersebut Muspika mengusulkan untuk mendirikan rumah sakit Katolik. Usulan tersebut direstui Bapak Uskup, dan ditindak lanjuti. Dewan berkunjung ke Susteran Strada Pejaten Jakarta. Dalam pembicaraan awal suster Propinsial menyetujui, namun akhirnya tidak jadi kerena uangnya digunakan untuk keperluan lain. Hal ini dilaporkan ke Romo Julianus Sunarka,SJ. Romo Narko menghubungi Suster Yohanita di Sukabumi melalui telepon. Suster Yohanita menyetujui bahwa Suster-suster SFS dari Sukabumi akan berkarya di Gubug. Namun sampai saat ini Suster-suster masih berkarya di bidang pendidikan dan pelayanan umat, sedangkan bidang kesehatan (rumah sakit) belum terwujudkan.

Romo-Romo yang pernah berkarya di Gereja Santo Petrus Gubug

1. Romo Stefanus Broto Santoso, MSF (1982), Beliau pendiri Gereja Santo Petrus Gubug
2. Romo Nicolaus Antosaputro,MSF., Romo Robertus Bellarminus Pranatasurya,MSF., Romo Yustinus Harjosusanto,MSF. Pernah   melayani di Gereja Santo Petrus Gubug dan sering tinggal di Pastoran Gubug.
3. Romo Fransiskus Assisi Suryosunaryo, MSF. (1984), laju dari Purwodadi
4. Romo Ambrosius Darmasuwarna,MSF (1984), membuat Goa Maria di depan Pastoran. Beliau sangat dekat dengan Mudika dan melaksanakan Misa di Gubug setiap Minggu ke-5 dengan Bahasa Jawa.
5. Romo Aloysius Endrakaryana, MSF (1986), banyak kegiatan yang dilakukan:
a. Selain sebagai Pastor juga mengajar di SMA Keluarga Gubug dan SMA Budiluhur Tanggungharjo
b. Mendirikan asrama untuk siswa SMA Keluarga, namun hanya berjalan sebentar karena tidak ada yang mengelola (lokasi dibelakang susteran, bangunan lalu dijual)
c. Membentuk Sie Pagruktilaya dengan pengurus:
– Ketua : Bpk Yohanes Biyanto (alm)
– Sekretaris : Bpk. Robertus Munadi
– Bendahara : Ibu Yohana Fransiska Icuk Sudiyati
d. Membentuk Sie Kesehatan dengan pengurus:
– Ketua : Bpk Fransiskus Xaverius Slamet Riyanto
– Sekretaris : Bpk. Robertus Munadi
– Bendahara : Ibu Yohana Fransiska Icuk Sudiyati
e. Merintis tempat peziarahan di Penadaran (Sendangjati) dengan membuat Jalan Salib dari Bantengan menuju pusat peziarahan di atas bukit.
f. Aktif mengunjungi umat
g. Mendatangi undangan pertemuan yang diselenggarakan Muspika Kec. Gubug
6. Romo Fransiskus Assisi Tedjasuksmana, MSF (1993), kegiatan yang dilaksanakan:
a. Melaksanakan HUT HPS di Gereja Santo Petrus Gubug dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk (sponsor Kantor Pusat HPS Ganjuran Yogyakarta)
b. Pasar murah untuk umum bertempat Penadaran dan halaman Gereja Santo Petrus Gubug. Dengan melibatkan WK Gubug, WK Purwodadi, dan WK Jawa Tengah
c. Mengadakan seminar HUT HPS yang diikuti dari Semarang, Kudus, Salatiga, Kendal, Wonogiri, dll.
d. Mengadakan pelatihan penanaman semangka, cabe merah, dan kunci.Pembuatan pupuk kandang di Desa Mangunsari Tegowanu.
7. Romo Bernardus Haryasmara,MSF (1998), 1 Juli 1998 mengaktifkan Sekretariat dengan petugas Bpk. Robertus Munadi dan Bpk Fransiskus Xaverius Slamet Riyanto, sebagai pemegang kas kecil dan membuat laporan keuangan ke KAS.
8. Romo Agustinus Suwartono Susilodiharjo,MSF. Beliau mengaktifkan kegiatan mudika. Pada suatu malam pernah kedatangan tamu tak diundang, tidak diketahui asalnya tetapi sudah berada di ruang makan Pastoran dan mengambil jaket Romo Sus. Sebelum pergi Romo Susilo meminta jaketnya kembali.
9. Romo Antonius Heru Susanto,MSF. Beliau aktif mengunjungi umat, orang sakit baik di rumah atau yang sedang opname.
10. Romo Dicdatus Carv. Prihambodo,MSF. Bersama Romo Ignatius Wignyasumarta,MSF., Romo Albertus Agus Ariestiyanto,MSF., dan Dewan Paroki membangun Pastoran, Aula, Kantor Sekretariat, Kamar mandi, Ruang Kesehatan, gudang, dan tempat parkir. Pelaksana Bpk Santoso Hidayat (pengusaha sirop Kartika), dengan dana dari Bpk. Arif Hartono (Jakarta).
11. Romo Yosef Tjoek Prasetyo, MSF. Bersama Dewan Paroki membangun menara lonceng, pagar depan. Dana dari umat (tidak mau disebutkan namanya). Membangun pagar samping dan belakang dengan dana dari PLN Semarang. Menghapus Misa Sabtu Sore karena umatnya sedikit.
12. Romo Petrus Lasadi,MSF. Romo Alexander Erwin,MSF, meningkatkan kegiatan mudika
13. Romo Aloysius Rinata Hadiwardaya,MSF. Mulai merintis PPDP, melaksanakan pemilihan Dewan Harian secara langsung untuk masa bhakti 2007-2010, dengan susunan terpilih sebagai berikut:
– Ketua : Albertus Agus Ariestiyanto,MSF
– Wakil Ketua I : Aloysius Rinata Hadiwardaya, MSF
– Wakil Ketua II : Agustinus Sugiyarto
– Sekretaris I : Yulius Subandiyono
– Sekretaris II : Agnes Sayekti Handayani
– Bendahara I : Maria Magdalena Harni
– Bendahara II : Robertus Munadi
– Koor Bid. Liturgi : Sr Maria Verena, SFS
– Koor Bid. Pewartaan : Cosmas Dariyo Susilo
– Koor Bid. Pelayanan : Johaes Rasul Kastipan
– Koor Bid. Persaudaraan : Fransiskus Xaverius Gintono Bejo
– Koor Bid. Wilayah : Agustinus Wasito
Pada tahun 2007 s.d 2008, Dewan Harian belum bisa melaksanakan tugas secara optimal, karena setelah pelantikan Pada bulan Juni 2007, sekretaris I dan sekretaris II melanjutkan program studi pasca sarjana. Pada akhir tahun 2008, Romo Aloysius Rinata Hadiwardaya, MSF digantikan oleh Romo Petrus Bimo Handoko, MSF.

14. Romo Petrus Bimo Handoko, MSF. (2009).
a. Mengadakan pergantian petugas sekretariat dari Bpk. Robertus Munadi dengan Fransiskus de Sales Lukman Safii.
b. Mengadakan pemilihan pergantian Pengurus Dewan Harian periode 2010-3013, dengan susunan terpilih sebagai berikut:
– Ketua : Albertus Agus Ariestiyanto,MSF
– Wakil Ketua I : Petrus Bimo Handoko, MSF.
– Wakil Ketua II : Johanes Rasul Kastipan
– Sekretaris I : Yulius Subandiyono
– Sekretaris II : Agnes Sayekti Handayani
– Bendahara I : Romana Saptorini
– Bendahara II : Maria Magdalena Harni
– Koor Bid. Liturgi : Sr Maria Verena, SFS
– Koor Bid. Pewartaan : Fransiskus Xaverius Suparno
– Koor Bid. Pelayanan : Albertus Warjono
– Koor Bid. Persaudaraan : Stefanus Adhi Heriyadi
– Koor Wilayah : Agustinus Wasito

c. Membentuk Tim 8 yang terdiri dari: Petrus Bimo Handoko,MSF, Agustinus. Sugiyarto, Yulius Subandiyono, Sr. M. Verena, SFS., Robertus Munadi, Fransiskus Xaverius Suparno, Stefanus Zaenuri, dan Yulius Sri Sapto (alm) untuk menyusun draff PPDP.
d. Mempresentasikan/membahas draff PPDP bersama Dewan Harian, Koordinator Wilayah, Ketua Wilayah, dan Ketua-ketua lingkungan.
e. Menyusun Doa Persiapan menuju paroki mandiri
f. Bersama Yulius Subandiyono menyusun Analisis SWOT dan Visi Misi Gereja
g. Memulai menyusun Tim-tim Kerja dan membuat program kerja, meskipun belum dapat dilaksanakan sepenuhnya.
h. Melaksanakan HPS dan peresmian Sendangjati Penadaran oleh Uskup Agung Semarang Mgr. Ignatius Suharyo. dilanjutkan penanaman 10.000 pohon dihadiri Bupati Grobogan.
i. Pada akhir tahun 2009, Romo Petrus Bimo Handoko,MSF digantikan oleh Romo Bernardus Haryasmara,MSF.
15. Romo Bernadus Haryasmara,MSF. (2010). Beliau berkonsentrasi menyiapkan Paroki mandiri dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a. Menindaklanjuti draff PPDP dan membahasnya bersama Romo Laurentius Suhar Dwi Budi Prasetya, Pr., Dewan Harian, Koordinator Wilayah, Ketua-ketua Wilayah, dan Ketua-ketua lingkungan.
b. Menyusun tim-tim kerja dan program kerja
c. Menyusun RAPB
d. Menyiapkan pendataan umat dengan format dari KAS.

Kepengurusan PGPM

PGPM Santa Maria masa bhakti 2002 s.d 2006
Ketua : Romo Ignatius Wignyosumarto,MSF
Sekretaris : Agustinus Sugiyarto
Bendahara : Robertus Munadi
Anggota : Fransiskus Xaverius. Pujiono
: Fransiskus Xaverius Gintono Bejo

PGPM Santa Maria masa bhakti 2006 s.d 2010
Ketua : Romo Albertus Agus Ariestiyanto,MSF
Sekretaris : Agustinus Sugiyarto
Bendahara : Robertus Munadi
Anggota : Fransiskus Xaverius Pujiono
                  : Fransiskus Xaverius Bejo

DATA UMAT PAROKI SANTO PETRUS GUBUG

Tahun

Jml Umat

Babtis

Komuni I

Krisma

Diterima dari Kristen

s.d 1998

1.314

16

24

3

1999

1.331

31

20

138

2000

1.379

57

5

2001

1.441

79

47

2002

2003

1.445

9

36

2004

1.506

65

109

1

2005

1.532

50

49

1

2006

1.458

23

64

2007

1.461

41

1

2008

1.525

67

 

2

2009

1.561

45

35

1

2010

1.574

18

11

126

2

Demikian sejarah perkembangan Gereja (umat) dan pembangunan gereja St. Petrus Gubug, sebagai catatan kecil yang diharapkan mampu mendorong bagi umat untuk berperan serta dalam kehidupan menggereja.

B. Sejarah Perkembangan Gereja Kristus Raja Kedungjati

Perjalanan sejarah Gereja Katolik Kristus Raja Kedungjati tidak bisa dilepaskan dari sesepuh/umat perdana/rasul awam, biarawan, biarawati serta imam yang lebih kurang 45 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1965 seorang warga katolik yang bernama Justinus Soetedjo dari Dinas Kesehatan Angkatan Darat Semarang pindah ke Desa kedungjati dengan keluarganya. Sejak tinggal di Kedungjati beliau berhasil mempertemukan beberapa keluarga Katolik, seperti keluarga: Bpk. CB. Kardjani, Bapak F. Soemitro, Bpk. Markus Saguh, Bpk. JC Santosa, Bpk. Agustinus Soepangat, Bpk. Julius Slamet Sastro Supadmo, dan lainnya. Keluarga-keluarga tersebut merupakan embrio terbentuknya Gereja Katolik di Desa Kedungjati. Kegiatan-kegiatan keagamaan/rohani yang dilakukan pada saat itu antara lain Doa bersama (sembahyangan), Ibadat Sabda, Misa Ekaristi Kudus.
Karena pada waktu itu belum ditentukan kewilayahan Kedungjati masuk Paroki mana, maka untuk dapat mengadakan Misa Ekaristi Kudus Bpk. Justinus Soetedjo meminta bantuan dari Pastor Salatiga dan Semarang. (Paroki Keluarga Kudus Admodirono), bahkan kadang-kadang minta pelayanan Misa Ekaristi Kudus dari Rochhani Katekis Kodam VIII Diponegoro, yaitu Kapten Wuryanto dan Romo Mayor Handojo.
Mengingat waktu itu belum memiliki tempat ibadah/gedung Gereja maka upacara Ibadat Sabda maupun Misa Ekaristi Kudus dilakukan dengan berpindah-pindah tempat di rumah umat, kemudian menyewa sebuah rumah milik Bpk. Kroyo Hardjoko dan selanjutnya pindah di rumah Bpk. Sardjo Harjotinojo, bahkan pada waktu itu pernah melakukan Ibadat Minggu di Taman Makam Bakti Pahlawan Kedungjati.
Semangat umat yang menggelora untuk mempunyai tempat ibadah sendiri, maka pada tahun 1967 atas usaha umat Kedungjati mendapatkan bantuan dari paroki Keluarga Kudus Admodirono dan dukungan dari Keuskupan Agung Semarang, yang akhirnya dapat membeli sebuah rumah sekolah tiga lokal milik perseorangan dan diubah menjadi bentuk Kapel. Harga rumah tersebut pada saat itu ± Rp. 125.000,- (seratus duapuluh lima ribu rupiah). Perubahan rumah sekolah menjadi Kapel itu dirancang oleh arsitek dari Paroki Admodirono dibawah pengawasan Romo De Koneng dengan kontruksi yang terbuat dari bahan kayu jati. Kapel didirikan di atas tanah milik Pengurus Gereja dan Papa Miskin (PGPM) Keuskupan Agung Semarang yang sebagian ditempati Sekolah Dasar Negeri 2 Kedungjati. Pada tanggal 1 Mei 1970 diresmikan dan diberkati oleh Vikaris Jendral Keuskupan Agung Semarang dan diberi nama Gereja Katolik Kristus Raja Kedungjati.
Sekitar tahun 1975 dilayani oleh Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus Purwodadi sampai tahun 1983, selanjutnya pelayanan diserahkan kembali ke Paroki Keluarga Kudus Admodirono Semarang, dan kemudian diserahkan ke Paroki Santo Paulus Sendangguwo sampai Sekarang.
Dalam perjalanan waktu, umat semakin bertambah dengan bergabungnya warga gereja baru. Kapelpun mengalami penyempurnaan yang semula berlantai tanah kemudian iplester, luas bangunan juga bertambah yang semula 12 x 14 meter menjadi 17 x 15m.
Semangat dari para sesepuh Gereja menjadi modal yang kuat bagi para pengurus Gereja selanjutnya. Pada tahun 1997 saat Stasi Kedungjati di Ketuai oleh Bapak Gregorius R Soepartono, umat bertekad untuk merenovasi Kapel agar menjadi lebih indah dan nyaman, dengan rencana: peninggian lantai ± 30 cm, dinding tembok, dan lantai keramik. Setelah melalui rapat Dewan Pengurus Gereja, maka pada thaun 1998 dibentuk panitia Renovasi dan pembangunan Gedung Gereja yang diketuai oleh Bpk. Alexander Targono BS. Selanjutnya sesudah Hari Raya Paskah tepatnya tanggal 15 April 1998 pekerjaan tahap I dimulai, yaitu dengan membuat pondasi dan dinding tembok . Pada awal tahun 1999 Romo Bernardus Haryasmara,MSF mulai berkarya di wilayah Kedungjati di mana untuk mempercepat renovasi beliau mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya dan langsung turun tangan. Puji Tuhan pada akhir tahun 1999, gedung Gereja dapat diselesaikan.
Pada perayaan Tahun Yubileum Agung 2000, tepatnya tanggal 2 Agustus 2000 Mgr. Ignatius Suharyo. Uskup Keuskupan Agung Semarang berkenan memberkatinya.
Pada tahun 2002 Romo Dicdatus Carv. Prihambodo,MSF berkarya di wilayah Kedungjati mengusahakan pagar BRC sebanyak 55 lembar untuk pembangunan pagar keliling Gereja dan kekurangannya diusahakan oleh umat sendiri. Pembangunan pagar diketuai oleh Bpk. Kusdi Sukoco. Karena terbatasnya dana pekerjaan pembuatan pagar tersebut dilakukan secara bertahap dan memakan waktu sekitar 3 (tiga) tahun.
Pada tahun 2010 bertepatan dengan Tahun Syukur KAS, umat Katolik Wilayah Kedungjati merayakan Hari Ulang Tahun Gereja yang ke-40 (pancawindu). Puncak acaranya dirayakan 21 Nopember 2010 bertepatan dengan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam.
Ajakan Santo Paulus menjadi inspirasi peneguh “mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah dalam Yesus Kristus’ (1 Tes 5: 18).

C. Sejarah Perkembangan Umat di Wilayah Matius Tanggungharjo

Pada bulan Pebruari tahun 1970, Desa Tanggungharjo mendapat kunjungan Bapak dan Ibu Yustinus Sutejo yang waktu itu menjabat sebagai DANRAMIL Kedungjati. Kunjungan tersebut juga membawa misi ajaran Kristus (agama Katolik) dan bertemu beberapa tokoh yang mempunyai keyakinan sama, antara lain: Bpk. Matius Martahardjono (alm)/ carik Tanggungharjo, Fransiskus Xaverius Sumadi (alm) Kepala SD, Y. Sadjiman/guru SMP N Tanggungharjo). Salah satu hasil pertemuan adalah untuk mendata umat Katolik di Desa Tanggungharjo dan sekitarnya.
Kegiatan pendataan umat diawali satu minggu setelah terjadi pertemuan dengan tokoh tadi, pendataan sampai wilayah Desa Ringinpitu dan bertemu dengan Bpk. Rakidin (pensiunan Guru) yang waktu itu mempunyai pengaruh yang luar biasa karena banyak membawa perubahan pada masyarakat setempat, dan beliau berkenan membantu dalam pendataan tersebut hingga beliau sampai pindah keyakinan menjadi murid Kristus.
Ternyata umat Katolik di Desa Tanggungharjo dan sekitarnya lumayan banyak, namun untuk melakukan kegiatan-kegiatan gereja belum dapat dilaksanakan, dan masih merayakan di Paroki Gedangan Semarang. Data umat Katolik diserahkan kepada Paroki Gedangan oleh Bpk. Yustinus Sutejo, dan mulai saat itu menjadi warga Paroki Gedangan Semarang.
Pada bulan Maret 1970 diadakan kegiatan Misa Kudus di Tanggungharjo yang dihadiri oleh umat Katolik dari Tanggungharjo, Kedungjati, Gedangan, dan Telawah yang dipimpin oleh Romo Yudo. Dalam sambutannya beliau memberi nama pada pertemuan tersebut “TANTIDAWAH’, (artinya: Tanggungharjo, Kedungjati, Gedangan, dan Telawah).
Pada Bulan April 1970 diadakan perayakan pesta Paskah di rumah Bpk. Carik yang dihadiri Tanggungharjo, Kedungjati dan sekitarnya. Kegiatan gereja mulai dapat berjalan dan mendapat dukungan dari masyarakat sekitar dengan baik. Perkembangan umat Katolik semakin maju sehingga pesta Paskah dan Perayaan Natal dapat dilaksanakan secara Rutin.
Bulan Januari 1972, tokoh-tokoh agama di sekitar mayoritas guru, merintis sebuah sekolahan Katolik yang berguna untuk menyebarkan ajaran Kristus melalui jalur pendidikan sehingga berdirilah SMP Budiluhur, yang tenaga pengajarnya didatangkan dari wilayah Klaten, antara lain:
1) Bpk. Ignatius Sungkono (alm) Kepala SMP Budiluhur
2) Bpk. Bambang (sekarang bertugas di SMP N 1 Purworejo)
3) Bpk. Pantiyono (sekarang di SD N Klaten)
4) Bpk. Fransiskus Xaverius Sudino (sekarang Kepala SMP Budiluhur Tanggungharjo)
Dengan berdirinya SMP Budiluhur, sangat membantu sekali dalam perkembangan dan pengakuan masyarakat akan agama Katolik. Alhasil masyarakat mulai sadar untuk tidak fanatisme berlebihan. Sejak Tahun 1982 Ekaristi dilaksanakan setiap Minggu ke-2 dan ke-4, bertempat di rumah Bapak Carik.
Untuk meningkatkan pelayanan di Wilayah Tanggungharjo perlu dipikirkan pembangunan KAPEL, mengingat selama ini kegiatan Ekaristi dan Perayaan-perayaan lainnya dilaksanakan di Rumah Bapak Carik (Agung Sutadi, S.H)

D. Sejarah Perkembangan Gereja Santo Paulus Penadaran
Gereja awal mula adalah sekelompok orang yang percaya kepada Sang Kristus Yesus, Sabda tersebut terjadi juga di Desa Penadaran, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan. Pada Tahun 1966 yang semula sekelompok orang yang mengadakan perkumpulan / pertemuan di suatu lapangan sekolah yang sekarang adalah Sekolah Dasar Negeri 1 Penadaran Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan.
Awal mula Gereja Santo Paulus adalah peristiwa datangnya seorang pemburu babi hutan dari Salatiga yang bernama Letnan Kolonel Soekoco beliau sering berburu babi hutan di Desa Penadaran, karena habitat babi hutan di sekitar hutan Desa Penadaran sangat banyak dan merupakan hama tanaman jagung, karena tidak ada persewaan penginapan maka Beliau tidur di rumah bapak kepala Desa. Yang bernama Bpk. Parjo.
Ketertarikan pertama seorang kepala desa dengan tamunya tersebut adalah , ketekunan berdoa oleh Bpk. Letnan Kolonel Soekoco, khususnya Doa sebelum dan sesudah makan dengan menggunakan tanda salib. Menjadi pertanyaan besar oleh Bpk Parjo Kepala Desa Penadaran Agama apa yang dianut oleh seorang tamunya tersebut. Berkembang dan rasa ingin tahulah yang menjadi awal kepercayaan. Maka timbulah kesanggupan untuk mulai belajar Agama Katolik dari seorang pemburu babi hutan tersebut.
Dari sebuah rumah penduduk yang cukup sederhana maka mulailah Bpk Letnan Kolonel Soekoco menyampaikan kabar Gembira sebagai Misi Kristus ditempat itu. Pada waktu itu Pastor yang ikut dalam misi Kristus adalah Romo A. Sandiwan Broto, Pr. dari Paroki Santo Paulus Miki Salatiga. Makin banyak yang mendengarkan Sabda Tuhan tersebut maka tidak muat lagi rumah penduduk yang sempit tersebut, maka dialihkan tempat yaitu di lapangan terbuka didepan Sekolah Dasar Negeri 1 Penadaran. Dengan berbagai keajaiban terjadi dan dirasakan oleh umat di Desa Penadaran Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan yang masih menggema yaitu kala mau hujan di tempat Lapangan tersebut maka hujan tak akan terjadi sebelum pertemuan selesai.
Pada Tahun Bulan Mei tahun 1967, Pembaptisan yang Pertama dilakukan Oleh Romo A. Sandiwan Broto, Pr. sejumlah 15 0rang di Sendang Sumber sebelah Selatan Desa Penadaran, Yang sekarang masih dipelihara kesrakalannya tempat itu oleh Setiap Kepala Desa yang Menjabatnya. Yaitu setiap ada acara sedekah bumi/Apitan maka dilaksanakan kesrakalannya dengan selamatan Panggang ayam dan dibersihkan oleh seluruh perangkat desa.
Pada Tahun 1968 dilaksanakan kembali Pembaptisan oleh Romo A. Sandiwan Broto, Pr. dengan tempat yang sama sebanyak 41orang. Dari beberapa pelajaran sabda Tuhan tersebut masyarakat Desa Penadaran Mulai mempercayai semua ajaranNya. Terutama dalam membina keluarganya masing masing, yang dapat dirasakan adalah peristiwa kawin cerai yang dengan mudah dilakukan masyarakat desa Penadaran. Dengan ajaran Kristus maka tak akan terulang lagi kawin cerai.
Dengan beberapa tokoh masyarakat yang sudah dipercaya untuk membantu menyampaikan Sabda Tuhan maka berkembang dengan pesat pada tahun 1969 sejumlah 150 KK mulai memeluk agama katolik, kurang lebih 92 % Penduduk Desa Penadaran memeluk Agama Katolik. Yang terdiri dari 3 lingkungan kring yaitu Lingkungan Tegalrejo yang Ketua lingkungannya adalah Bpk. Paulus Sawilan, Lingkungan Sasak di ketuai oleh Bpk. Petrus Nyamin, Lingkungan Bantengan diketuai oleh Bpk. Titus Minhat. Dalam bidang administrasi ikut Paroki Santo Paulus Miki Salatiga.
Rutinitas Pelaksanaan Ibadat Sabda dan Ekaristi mulai dilaksanakan di rumah umat yaitu Pendapa Kepala Desa dan Rumah Bpk. Paulus Sawilan.
Mayoritas penduduk bertani dengan lahan pertanian terbatas, dan masih primitive. Maka hasil panen tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sebagai puncak peristiwa ini adalah pada tahun 1974 Desa Penadaran dilanda krisis pangan, banyak keluarga yang menderita gizi buruk, makan seadanya ubi sebagai andalannya dampak itu juga terjadi di dunia pendidikan khususnya di tingkat SD putus sekolah. Pada tahun 1975 Yayasan Sugiyopranoto Semarang membantu umat Desa Penadaran dengan cara Program Transmigrasi dan orang tua asuh. Dari program tersebut sebanyak 72 KK umat katolik ditransmigrasikan di Sumatra, dan 67 anak menjadi anak asuh di Semarang. Yang masih menetap dibantu dengan bahan makanan yaitu BULGUR (dari campuran ubi dan beras di keringkan) maka pada waktu itu mendapat julukan umat Bulgur.
Pada akhir tahun 1976 mulai merangkak kepulihan perekonoian umat Katolik dengan keadaan umat tinggal 50%, Yang sekarang 50% yang di Sumatera Talang Semarang dan sekitarnya Sudah Menjadi Paroki yang merupakan cikal bakal asli Desa Penadaran. Dengan berbagai bimbingan oleh Romo Ignatius Wignyasumarta,MSF. Yang dilakukan dengan cara hafalan baik doa–doa dan nyanyian paduan suara maka mulailah bangkit kembali umat katolik Penadaran. Untuk Penerimaan Sakramen Penguatan pada tahun itu dilaksanakan di kantor kawedanan Gubug . Makin bertambahlah umat meskipun tempat misa yang masih dilaksanakan di rumah warga. Perkawinan yang semula dilaksanakan di KUA tetapi dengan kepercayaan akan Yesus Kristus, mulailah diperbaharui di Gereja Katolik Santo Paulus Miki Salatiga, makin banyak pula keluarga baru yang menerima sakramen Perkawinan. Makin berkembanglah umat Katolik.
Karena proses perkawinan yang harus dilakukan di Catatan Sipil Kabupaten maka pada tahun 1977 Wilayah Penadaran pindah ke Paroki Hati Kudus Purwodadi. Pelayanan dilaksanakan 1 kali misa dalam satu bulan minggu-minggu biasa diisi oleh ibadat sabda Pro Diakon Bpk. Paulus Sawilan. Kondisi jalan yang tidak baik. Pada tahun 1980 dengan tanah hibah ukuran 74m x 16,5m dari keluarga Bpk. Paulus Sawilan didirikan kapel dari kayu dan tempat duduk kayu (dingklik/kursi panjang tanpa senderan) dari swadaya umat yang beralaskan tanah dengan ukuran 15m x 6m, yang sampai sekarang tempat gereja. Pada tahun 1980 kondisi ekonomi masih dibawah garis kemiskinan, maka banyak umat katolik Penadaran masih sering menerima sumbangan baik pakaian pantas pakai dan bahan makanan. Melihat kondisi gereja yang semacam itu tergeraklah salah satu umat di Paroki Atmodirono Semarang untuk membangun. Pada tahun 1986 dibangulah gereja semi permanen dengan ukuran 24m x 9 m. Dengan Gereja yang cukup luas pada waktu itu maka lingkungan dipecah menjadi 6 lingkungan yaitu Lingkungan Tegalrejo, Sasak 1, Sasak 2, Bantengan 1, Bantengan 2, dan Bantengan 3.
Pada Tahun 1992 yang digembalakan oleh Romo Aloysius Endrakaryana, MSF. Mulai dibangun juga tempat ziarah yaitu Gua Maria Sendangjati dan Gua Santo Yosef yang terletak di pegunungan Bayang Kaki disebelah timur laut gereja dengan jarak kurang lebih 1,6 km. yang sekarang terkenal dengan sebutan “ Golgota di ladang jagung“
Dengan perkembangan umat menurut statistik gereja pada tahun 1992 umat katolik berjumlah 160 KK, 670 jiwa, maka misa 2 kali dalam satu bulan dengan bahasa jawa dan bahasa Indonesia. Minggu selain misa adalah Ibadat yang dipimpin oleh 2 orang Diakon awam, kemudian pada tahun 2004, misa 3 kali dalam 1 bulan, misa dibantu oleh 4 Prodiakon.
Perkembangan Umat katolik yang mayoritas petani lahan hutan milik Perum Perhutani menjadi pesat oleh karena kepercayaan dan berkah Tuhan Yesus yang selalu menyertai umat-Nya yang serba kekurangan. Alhasil umat menjadi budaya megik , dikala ada keluarga yang mengingkari janjinya terhadap Yesus/ pindah agama maka tak lama kehidupannya akan menderita seumur hidup, itu sudah terbukti kebenaranya yang terjadi di umat katolik Wilayah Penadaran. Dan Perkawinan akan langgeng tatkala perkawinan yang dilakukan di Gereja.
Pada tanggal 28 Oktober 2008 perayaan Peringatan Hari Pangan Sedunia ( HPS ) dilaksanakan di tempat Ziarah Gua Maria Sendang Jati yang dikenal dengan Golgota di ladang jagung. Dengan kegiatan Lomba-lomba, dan Penanaman 10.000 pohon disekitar Gua Maria Sendang Jati dan seluruh wilayah desa Penadaran, yang dihadiri oleh Mgr. Ignatius Suharyo, Bupati Grobogan, Muspika Kabupaten Grobogan dan Romo-romo KISDIANA. Pelaksnaan Atas Prakarsa LPUBTN, Yayasan Marsudirini, dan Kelompok Tani UB Ngudi Rejo Penadaran. Akibat HPS tersebut diatas Tempat Ziarah tersebut menjadi terkenal dan diakui salah satu tempat ziarah Keuskupan Agung Semarang, meskipun pembangunannya masih sederhana karena keterbatasan dana.
Karena banyaknya umat pengunjung ke tempat ziarah tersebut maka dengan berkah Tuhan Yesus maka pada tanggal 28 November 2010 dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan gereja Santo Paulus Penadaran dengan kepanitiaan terdiri dari Rm Albertus Agus Ariestiyanto, MSF., Bpk. MP. Suteja Alim Wijaya, Bpk. Ir. Suwartana Suryaputra, Bpk. dr. I. Hartantyo, Sp.A (K), Bpk. Theodorus Jimmy Susilo, dan Bpk. Viktorius Suparjo. Pembangunan direncanakan membutuhkan biaya sebesar Rp. 967.000.000,- (sembilan ratus enam puluh tujuh juta rupiah). Pembangunan Gereja dilebarkan ke tanah milik Bpk. Fransiskus Xaverius Hari dengan cara tukar guling tanah depan gereja milik warga yang dibeli oleh gereja.

Iklan

Awan Tag